Memahami Asuransi Syariah Beserta Hukumnya

Agama Islam selalu menganjurkan seluruh umatnya untuk selalu melakukan hal-hal yang sesuai syariat keagamaan, tak terkecuali kegiatan dalam bidang ekonomi. Asuransi syariah bisa dikatakan sebagai salah satu contoh kegiatan muamalah yang dianjurkan oleh agama. 

Allianz, sebagai salah satu pelopor asuransi di Indonesia, sudah lama mengeluarkan produk-produk berbasis syariat Islam. Jika Anda tertarik untuk mengetahui macam-macam produk asuransi syariah Allianz, Anda bisa membuka tautan berikut: https://www.allianz.co.id/produk/asuransi-syariah.

Membicarakan asuransi syariah tentu tidak bisa melewatkan topik tentang hukum yang mendasarinya. Bila Anda ingin mengetahui dasar-dasar hukum yang menyokong kegiatan ekonomi satu ini, silakan simak ulasannya dalam paragraf berikut.

Memahami Pengertian Asuransi dan Asuransi Syariah

Pengertian asuransi secara umum adalah produk perlindungan atau jaminan atas  hal-hal yang disepakati oleh 2 pihak (peserta dan perusahaan) dalam sebuah perjanjian dengan beberapa ketentuan, kewajiban, dan hak sesuai jangka waktu yang dipilih oleh peserta. Saat ini, asuransi dibagi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu asuransi konvensional (prinsip jual beli dengan risiko) dan asuransi syariah (prinsip syariah non-riba dan bagi hasil).

Asuransi syariah adalah jenis asuransi dari hasil modifikasi asuransi konvensional dengan manfaat jaminan perlindungan diri beserta pengelolaan keuangan sesuai syariat Islam. Cara pembayaran yang dilakukan peserta adalah berupa cicilan setiap bulan tanpa pemotongan dana pokok. Asuransi jenis ini juga menawarkan banyak kelebihan serta minim risiko bagi pesertanya.

Hukum Asuransi Syariah

Asuransi syariah dalam tata pelaksanaannya sudah diatur dan disesuaikan dengan ilmu muamalah. Produk ekonomi ini juga tidak memberikan imbalan dari hasil riba (atau kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai barang yang diterima) layaknya asuransi konvensional. Di Indonesia sendiri, MUI sudah mengeluarkan fatwa halal dengan nomor 21/DSN-MUI/X/2001. Adanya fatwa ini sudah sangat jelas, bukan? Lantas, mengapa asuransi syariah dihalalkan?

  • Prinsip saling membantu

Sistem perputaran uang yang ada di tabungan bersama asuransi muamalah digunakan untuk saling membantu sesama peserta asuransi. Maksudnya adalah jika ada peserta yang mengajukan klaim, maka dana yang dicairkan berasal dari tabungan bersama. Prinsip saling membantu ini sudah sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

  • Iuran premi tidak akan hilang

Para peserta diwajibkan membayar premi atau iuran setiap bulan baik asuransi konvensional maupun syariah. Tetapi, jika peserta menghentikan keikutsertaannya dalam asuransi konvensional, seluruh dana yang sudah dibayar cenderung akan hangus. Sedangkan dalam asuransi syariah, dana peserta akan tetap dikembalikan secara utuh sesuai iuran yang telah dibayarkan, tentunya setelah dipotong dengan biaya klaim (jika ada). 

  • Memiliki akad muamalah yang jelas

Asuransi syariah memiliki akad yang jelas, yakni akad tijarah, tabbaru, dan wakalah bil ujrah. Ketiga akad ini terbebas dari unsur suap (risywah), penipuan (gharar), judi (maysir), riba, aniaya (zholim), maksiat dan barang haram. 

  • Risiko perputaran dana ditanggung bersama

Setiap kegiatan muamalah pasti akan mengalami untung dan rugi. Kondisi ini juga berlaku pada pengelolaan dana investasi dalam asuransi syariah. Sehingga, ketika terjadi risiko (untung dan rugi) maka akan ditanggung bersama oleh semua peserta tanpa terkecuali.

  • Alokasi investasi sangat jelas dan halal

Asuransi syariah tetap dapat melakukan investasi dana, tetapi dialokasikan pada tempat yang halal. Pada umumnya, dana dari peserta akan masuk pada kategori saham, deposito, pendapatan tetap, sukuk, dan sebagainya.

Asuransi syariah sudah dijamin kehalalan dan akan membawa keberkahan karena seluruh prosesnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam yang berlaku. Jika ingin menjadi peserta, maka pastikan dulu produk yang akan dipilih sudah sesuai dengan kebutuhan atau belum. Apakah Anda tertarik untuk memiliki asuransi syariah?

Leave a Reply

(*) Required, Your email will not be published